Bukankah Tuhan masih menyayangi kita dengan anugerahNya? Tangan kita masih berfungsi dengan baik, mata masih berfungsi dengan baik, kaki, telinga, hidung dan organ lainnya. Kemudian masih pantaskah kita marah kepada Tuhan dengan mengatakan Tuhan tidak adil, hanya karena hidup kita tidak bergelimang harta.
Tuhan tidak pernah menyematkan sesuatu pada hambaNya kecuali untuk kebaikan. Memang terkadang sangat sulit bagi kita menerima keadaan di mana kita sudah berusaha semaksimal mungkin, berdo'a sesering mungkin, mengagungkanNya dalam setiap helaan nafas, namun hasil yang diberikannya tak sesuai dengan harapan kita.
Apapun keadaan kita saat ini, adalah keadaan terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita.
Mari melihat surat cintaNya ,
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Siapa yang paling tahu diri kita? Tuhan. Dia yang menciptakan, dia yang paling tahu tentang ciptaanNya. Segala sesuatu telah diaturNya sesuai dengan ukurannya. Tidak ada yang salah dalam setiap ketentuanNya. Yang salah adalah kita yang salah memperlakukannya.
Jika saat ini kondisi kita sedang banyak hutang, itu adalah bisikan Tuhan "bekerja keraslah kamu, supaya berpenghasilan dan segera bayar hutangmu"
Jika saat ini kita sedang sakit, maka hakikatnya Tuhan berbisik "istirahatlah sejenak, hati-hati dengan makananmu"
Jika hari ini kita sedang kehilangan uang, maka sebenarnya Tuhan berbisik "hati-hati naruh uang"
Jika hari ini kita bersedih, sesungguhnya Tuhan berbisik "sabarlah, Aku akan segera menggembirakanmu"
Jika kita hari ini sedang gembira, maka yakinlah bahwa Tuhan berbisik "Bersyukurlah, dan akan aku tambah nikmatKu kepadamu"
Keadaan boleh saja tidak menguntungkan menurut kita, harta boleh saja habis, tapi keyakinan kita akan harapan kita kepadaNya tidak boleh pupus, harapan tak boleh hilang. Selagi Izra'il belum diutus kepada kita, Yakinlah bahwa Tuhan pasti mengutus Mikail kepada kita.
Tetap berbaik sangka bpadaNya. Karena Dialah (Allah) Tuhan kita.
Gambar : https://dakwahsahabat.wordpress.com
Tuhan tidak pernah menyematkan sesuatu pada hambaNya kecuali untuk kebaikan. Memang terkadang sangat sulit bagi kita menerima keadaan di mana kita sudah berusaha semaksimal mungkin, berdo'a sesering mungkin, mengagungkanNya dalam setiap helaan nafas, namun hasil yang diberikannya tak sesuai dengan harapan kita.
Apapun keadaan kita saat ini, adalah keadaan terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita.
Mari melihat surat cintaNya ,
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Siapa yang paling tahu diri kita? Tuhan. Dia yang menciptakan, dia yang paling tahu tentang ciptaanNya. Segala sesuatu telah diaturNya sesuai dengan ukurannya. Tidak ada yang salah dalam setiap ketentuanNya. Yang salah adalah kita yang salah memperlakukannya.
Jika saat ini kondisi kita sedang banyak hutang, itu adalah bisikan Tuhan "bekerja keraslah kamu, supaya berpenghasilan dan segera bayar hutangmu"
Jika saat ini kita sedang sakit, maka hakikatnya Tuhan berbisik "istirahatlah sejenak, hati-hati dengan makananmu"
Jika hari ini kita sedang kehilangan uang, maka sebenarnya Tuhan berbisik "hati-hati naruh uang"
Jika hari ini kita bersedih, sesungguhnya Tuhan berbisik "sabarlah, Aku akan segera menggembirakanmu"
Jika kita hari ini sedang gembira, maka yakinlah bahwa Tuhan berbisik "Bersyukurlah, dan akan aku tambah nikmatKu kepadamu"
Keadaan boleh saja tidak menguntungkan menurut kita, harta boleh saja habis, tapi keyakinan kita akan harapan kita kepadaNya tidak boleh pupus, harapan tak boleh hilang. Selagi Izra'il belum diutus kepada kita, Yakinlah bahwa Tuhan pasti mengutus Mikail kepada kita.
Tetap berbaik sangka bpadaNya. Karena Dialah (Allah) Tuhan kita.
Gambar : https://dakwahsahabat.wordpress.com








0 komentar:
Posting Komentar