Cari Blog Ini

Jumat, 24 Mei 2019

Murka Bargawa

Bargawa
Bargawa diam bukan bungkam, karena hatinya tetep begumam
Dia melihat, dan tahu dari balik nanar matanya

Bargawa terus bergerak dalam kegelapan, mencari kesempatan, menoreh sayatan
Perih..., walaupun tak seperih yang dia rasakan

Tangannya kaku mengepal, tanpa mampu memukul karena musuhnya punya ilmu kebal
Bargawapun misuh sekerasnya dalam hatinya
Tetapi dilahirkan dengan lidahnya, dan diterjemahkan dengan bahasa yang tidak baku

Masih dalam kegelapan, diraihnya kapak andalan
Diayunkan pelan agar tidak mematikan
Yang diharap hanyalah kesakitan dan ratapan
Memohon pengampunan, meraung ketakutan
Hingga jatuh terkulai dalam kecemasan, dan Sang Yama datang meloloskan kehidupannya dari tulang-tulang

Bargawa masih dalam kegelapan, 
Bargawa yang kesetanan
Memenggal kepala-kepala para satria, raja, penoda kesucian

Tak lupa kapak bersandar di badan
Kapak itu berujung tajamt berwarna keemasan
Menembus dinding-dinding keangkuhan

Mana ksatria dan raja sundal
Akan ku jadikan tumbal
Atas perilaku yang bebal
Suaranya menggelegar

Masih dalam gelap, dengan busana Bargawa lengkap
Dan Bargawa mmasihbelum puas bukan karena kalap

Ditelusuri belantara, dipenggal setiap pelaku sundal
Tidak peduli ksatria, raja maupun jelata
Kapak Bargawa yang akan berbicara
Kapak berujung lancip dan berwarna hitam

Bargawa masih dalam kegelapan
Tertunduk kepalanya
Batinnya bergolak, 
"Wahai sang raja, nantikan kapakku.....,
Dan akan ku penggal kepalamu 
Sebagai bentuk dharmaku...

Kamis, 25 April 2019

Dari PPP, PK hingga PKS (Sebuah Perjalanan Politik)


 Politik itu tidak seperti yang terlihat di permukaan. Maka jangan terlalu baper.

Saya jadi ikut politik semenjak kelas 1 STM,  sudah grudak-gruduk kampanye. Ikut PPP dengan lambang bintang.

PPP yang saat itu di pimpin Ismail Hasan Metarium, seorang politisi yang kharismatik. Karena itu saya sempat membeli buku biografinya. Saat itu belum punya hak pilih tetapi semangat berpolitik sudah ada. Bangga berompi hijau, bahkan kampanye ke Sriwedari pun saya ikut.

Tahun 1999, saat itu saya masih kelas 3 STM, ditawari masuk menjadi anggota PK. Teman saya bilang "iki apik lho, bojone ketuane wae Hafidzah." Dan masuklah saya di PK, menjadi bagian pengurus DPC Kec. Batuwarno, yang susunan pengurusnya hampir mirip dengan Pengurus Remaja Masjid. Kalau gak salah yang beda cuma bendahara dan sekretaris. Itupun dibalik saja, sekretaris jadi bendahara dan bendahara menjadi sekretaris.

Di usia yang terbilang muda, saya masuk dunia politik dan menjadi PPS tingkat kelurahan yang dulu di isi dari unsur Partai. Hanya ada lima partai saja yang mengirimkan perwakilannya.  Golkar, PKB, PPP, PDIP, dan PK.

Dari situlah saya mulai belajar politik. Pagi sekolah, siang piket di Balai Desa, malam rapat Partai. Belajar berjuang, membiayai kampanye dengan dana seadanya, mengumpulkan sampah di jual untuk kegiatan partai. Kertas bekas yang bisa dipakai di cetak untuk pamflet. Satu alenia berita di surat kabar tentang PK adalah sebuah mutiara yang sangat berharga.

Interaksi saya dengan kawan-kawan kader PK masih berlanjut hingga sekarang menjadi PKS. Memang sudah banyak perubahan dengan PKS, namun itu saya tetap bertahan bersama orang-orang yang baik di Partai ini. Partai Keadilan Sejahtera.
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com