Politik itu tidak seperti yang terlihat di permukaan. Maka jangan terlalu baper.
Saya jadi ikut politik semenjak kelas 1 STM, sudah grudak-gruduk kampanye. Ikut PPP dengan lambang bintang.
PPP yang saat itu di pimpin Ismail Hasan Metarium, seorang politisi yang kharismatik. Karena itu saya sempat membeli buku biografinya. Saat itu belum punya hak pilih tetapi semangat berpolitik sudah ada. Bangga berompi hijau, bahkan kampanye ke Sriwedari pun saya ikut.
Tahun 1999, saat itu saya masih kelas 3 STM, ditawari masuk menjadi anggota PK. Teman saya bilang "iki apik lho, bojone ketuane wae Hafidzah." Dan masuklah saya di PK, menjadi bagian pengurus DPC Kec. Batuwarno, yang susunan pengurusnya hampir mirip dengan Pengurus Remaja Masjid. Kalau gak salah yang beda cuma bendahara dan sekretaris. Itupun dibalik saja, sekretaris jadi bendahara dan bendahara menjadi sekretaris.
Di usia yang terbilang muda, saya masuk dunia politik dan menjadi PPS tingkat kelurahan yang dulu di isi dari unsur Partai. Hanya ada lima partai saja yang mengirimkan perwakilannya. Golkar, PKB, PPP, PDIP, dan PK.
Dari situlah saya mulai belajar politik. Pagi sekolah, siang piket di Balai Desa, malam rapat Partai. Belajar berjuang, membiayai kampanye dengan dana seadanya, mengumpulkan sampah di jual untuk kegiatan partai. Kertas bekas yang bisa dipakai di cetak untuk pamflet. Satu alenia berita di surat kabar tentang PK adalah sebuah mutiara yang sangat berharga.
Interaksi saya dengan kawan-kawan kader PK masih berlanjut hingga sekarang menjadi PKS. Memang sudah banyak perubahan dengan PKS, namun itu saya tetap bertahan bersama orang-orang yang baik di Partai ini. Partai Keadilan Sejahtera.









