Cari Blog Ini

Minggu, 16 November 2014

Tentang kaya dan miskin

Sebagian orang mengartikan bahwa orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah meskipun dalam kondisi kekurangan. Dan orang miskin adalah orang yang selalu merasa kurang dengan apa yang diberikan Allah meskipun berlimpah harta. Sepintas indah memang, tapi benarkah demikian?

Jika orang miskin diartikan seperti di atas apakah mereka berhak menerima zakat sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur'an. Tentu tidak. Berarti dia tidak miskin, tetapi bisa jadi bermental miskin.
Ada juga motivator yang sering mengatakan " kita ini sebenarnya kaya. Mau bukti? Bolehkah mata anda saya beli 100 juta. Tentu tidak. Berarti kita memiliki aset minimal 200 juta. Bukankah kita orang kaya?" Atau senada dengan ini.

Ada juga yang sering mengatakan "kekayaan bisa membeli kasur, tetapi tidak bisa membeli tidur. Uang bisa membeli obat, tapi tak bisa membeli sehat. Uang bisa membeli/ membayar hiburan tetapi tidak bisa membeli kebahagiaan." Tetapi saya akan bertanya apakah kemiskinan juga bisa membeli itu semua? Tentu juga tidak bisa.

Ada lagi yang memberi dua pilihan yang sangat sering kita dengar. Pilih miskin tapi beriman, sehat dan bahagia atau kaya tapi tidak beriman, sakit-sakitan dan sengsara. Tentu kita akan pilih yang pertama jika pilihannya cuma itu. Allah memberikan pilihan ketiga. Beriman, Kaya, sehat, bahagia. Mungkin tidak? Jelas sangat mungkin.

Sering kali sebagian kita membuat apologi-apologi, permakluman dengan kondisi ketidak mampuan (baca : kemiskinan) kita dengan hal-hal seperti diatas. Padahal jika kekayaan dilingkungan kita tidak kita kuasai, siapa yang akan menguasainya? Orang lain. Kalau orang itu baik, alhamdulillah. Pasti outputnya baik. Tetapi jika mereka bukan orang baik, maka sebagian besar atau hampir semua kekayaan mereka akan mengalir ke tempat-tempat yang tidak baik. Megahnya tempat-tempat maksiat karena ada biaya untuk membangunnya. Dan tidak mungkin orang yang beriman yang mengeluarkan biaya itu. Ramainya tempat-tempat maksiat karena mereka yang datang punya uang. Lagi-lagi mereka pasti bukan orang beriman.

Tentu sangat berbeda jika perputaran uang dikuasai oleh orang-orang yang baik, yang beriman.  Tentunya yang akan berdiri megah bukanlah tempat-tempat maksiat. Tetapi gedung-gedung lembaga pendidikan, lembaga dakwah, dan tempat-tempat yang bermanfaat lainnya.
Umrah butuh uang, ibadah haji butuh uang yang tidak sedikit. Sekolah berkualitas butuh uang yang banyak. O...disana gratis dan berkualitas.  Sebenarnya tetap bayar tetapi yang bayar orang lain dan rata-rata adalah para aghniya. Dan tentunya kita lebih bahagia membiayai orang lain dari pada dibiayai.

Menjadi kaya itu bukan aib sepanjang cara mendapatkannya dengan cara yang halal dan baik. Dakwah ini butuh biaya yang besar. Tidak cukup hanya dengan berdo'a. Tetapi harus ada upaya, ada ikhtiar. Sunduquna Juyubuna itu bukan berwujud do'a tetapi berwujud harta benda.
Menjadi kaya bukanlah kewajiban, yang wajib adalah bekerja cerdas, berdoa, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah. Fa idza azamta fa tawakal 'alallah.
Ini merupakan pendapat pribadi, boleh setuju maupun tidak.








Selasa, 04 November 2014

APA KABAR JARI-JARIKU?

Dulu kita mengenal pepatah "ajining diri ana ing lathi" yang artinya kurang lebih harga diri kita ada pada apa yang kita katakan. Semakin baik apa-apa yang kita katakan, maka semakin baik pula harga diri kita. Dan sebaliknya semakin buruk ucapan kita maka semakin jatuh pula harga diri kita.
Meski tidak 100% benar, tetapi ini bisa menjadi acuan kita dalam berucap. Lebih berhati-hati, berfikir sebelum bicara.
Dan di era digital seperti sekarang ini, pepatah itu sedikit mulai bergeser menjadi  "ajining diri ana ing driji" Artinya bahwa harga diri kita ada di jari-jari kita. Mengapa demikian? Karena media komunikasi kita semakin canggih. Ada SMS, email, facebook, whatsap, bbm, instagram, tweeter, dan banyak yang lain. Dan untuk menjalankannya jari-jari kita akan bekerja mengeja huruf demi huruf.
Media sosial bagaikan pisau. Jika digunakan oleh orang yang baik, maka akan bermanfaat, tapi jika digunakan oleh orang yang buruk, tidak jarang media ini bisa menyebabkan kejahatan yang luar biasa. Tidak jarang kita mendengar tindak kejahatan yang bermula dari kenalan di media sosial.
Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam menggunakan media sosial
Pertama : Media sosial bukanlah tempat untuk curhat. Karena ini adalah wilayah publik. Siapa saja bisa melihat dan mengaksesnya. Jika kita dalam keaadaan psikologi, perasaan yang tidak stabil, maka mudah sekali untuk dipengaruhi. Kondisi akal bekerja tidak maksimal sehingga out putnya dikhawatirkan juga tidak sebaik ketika kondisi akal sedang fit. Orang yang galau/ goncang emosinya akan lebih mudah dipengaruhi oleh orang lain. Saran-saran dari teman-teman media sosial kita juga belum tentu baik. Karena banyak akun-akun palsu berkeliaran yang tidak memiliki tujuan yang baik. Kalau mau curhat, curhatlah dengan orang yang sudah kita kenal baik dan dekat dengan kita. Misalnya orang tua, kakak, adik yang kecil kemungkinan akan memberikan saran yang menjerumuskan.
Kedua : Hindari kata-kata kotor, mencela, menghina, menghardik. Karena boleh jadi orang yang kita cela menjadi sakit hati. Lebih mengkhawatirkan jika rasa sakit hati itu kemudian di wujudkan dengan perbuatan-perbuatan yang akan membahayakan kita.
Ketiga : Jangan memfitnah. Selain ini adalah dosa besar, jika fitnahan itu sudah kita lempar ke media sosial, maka akan sangat susah dihentikan. Jangan sampai keisengan kita justru menjadi bumerang bagi kita, yang justru akan menghancurkan kita sendiri.
Keempat : Jangan memasang gambar profile yang mengundang kejahatan. Terutama untuk kaum hawa. Bagaimanapun wanita adalah perhiasan dunia. Jangan sampai gambar/ foto profil anak perempuan kita, istri kita memicingkan mata para lelaki iseng di dunia maya.
Kelima : Jadikan media sosial kita untuk ajang silaturrahim, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Jadikan media sosial kita ajang mencari pahala, bukan ajang mencari dosa
Keenam : Bagi para pebisnis tentunya tidak salah jika menggunakan media sosialnya untuk membangun jaringan, ajang promosi produk, saling bertukar ilmu dan lain-lain.
Tentunya masih banyak rambu-rambu yang lain yang bisa kita tambahkan. Pada intinya bahwa jari-jari kita menentukan siapa kita, posisi kita, dan bahkan keselamatan kita. Lebi berhati-hati, lebih bijak, lebih sopan dan santun. Mudah-mudahan, bisa menambah pahala, menambah saudara, dab lebih menyelamatkan kita.

Senin, 03 November 2014

KARENA DIALAH (ALLAH) TUHAN KITA

Bukankah Tuhan masih menyayangi kita dengan anugerahNya? Tangan kita masih berfungsi dengan baik, mata masih berfungsi dengan baik, kaki, telinga, hidung dan organ lainnya. Kemudian masih pantaskah kita marah kepada Tuhan dengan mengatakan Tuhan tidak adil, hanya karena hidup kita tidak bergelimang harta.

Tuhan tidak pernah menyematkan sesuatu pada hambaNya kecuali untuk kebaikan. Memang terkadang sangat sulit bagi kita menerima keadaan di mana kita sudah berusaha semaksimal mungkin, berdo'a sesering mungkin, mengagungkanNya dalam setiap helaan nafas, namun hasil yang diberikannya tak sesuai dengan harapan kita.

Apapun keadaan kita saat ini, adalah keadaan terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita.
Mari melihat surat cintaNya ,

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Siapa yang paling tahu diri kita? Tuhan. Dia yang menciptakan, dia yang paling tahu tentang ciptaanNya. Segala sesuatu telah diaturNya sesuai dengan ukurannya. Tidak ada yang salah dalam setiap ketentuanNya. Yang salah adalah kita yang salah memperlakukannya.

Jika saat ini kondisi kita sedang banyak hutang, itu adalah bisikan Tuhan "bekerja keraslah kamu, supaya berpenghasilan dan segera bayar hutangmu"
Jika saat ini kita sedang sakit, maka hakikatnya Tuhan berbisik "istirahatlah sejenak, hati-hati dengan makananmu"
Jika hari ini kita sedang kehilangan uang, maka sebenarnya Tuhan berbisik "hati-hati naruh uang"
Jika hari ini kita bersedih, sesungguhnya Tuhan berbisik "sabarlah, Aku akan segera menggembirakanmu"
Jika kita hari ini sedang gembira, maka yakinlah bahwa Tuhan berbisik "Bersyukurlah, dan akan aku tambah nikmatKu kepadamu"

Keadaan boleh saja tidak menguntungkan menurut kita, harta boleh saja habis, tapi keyakinan kita akan harapan kita kepadaNya tidak boleh pupus, harapan tak boleh hilang. Selagi Izra'il belum diutus kepada kita, Yakinlah bahwa Tuhan pasti mengutus Mikail kepada kita.
Tetap berbaik sangka bpadaNya. Karena Dialah (Allah) Tuhan kita.

Gambar : https://dakwahsahabat.wordpress.com
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com