Cari Blog Ini

Selasa, 04 November 2014

APA KABAR JARI-JARIKU?

Dulu kita mengenal pepatah "ajining diri ana ing lathi" yang artinya kurang lebih harga diri kita ada pada apa yang kita katakan. Semakin baik apa-apa yang kita katakan, maka semakin baik pula harga diri kita. Dan sebaliknya semakin buruk ucapan kita maka semakin jatuh pula harga diri kita.
Meski tidak 100% benar, tetapi ini bisa menjadi acuan kita dalam berucap. Lebih berhati-hati, berfikir sebelum bicara.
Dan di era digital seperti sekarang ini, pepatah itu sedikit mulai bergeser menjadi  "ajining diri ana ing driji" Artinya bahwa harga diri kita ada di jari-jari kita. Mengapa demikian? Karena media komunikasi kita semakin canggih. Ada SMS, email, facebook, whatsap, bbm, instagram, tweeter, dan banyak yang lain. Dan untuk menjalankannya jari-jari kita akan bekerja mengeja huruf demi huruf.
Media sosial bagaikan pisau. Jika digunakan oleh orang yang baik, maka akan bermanfaat, tapi jika digunakan oleh orang yang buruk, tidak jarang media ini bisa menyebabkan kejahatan yang luar biasa. Tidak jarang kita mendengar tindak kejahatan yang bermula dari kenalan di media sosial.
Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam menggunakan media sosial
Pertama : Media sosial bukanlah tempat untuk curhat. Karena ini adalah wilayah publik. Siapa saja bisa melihat dan mengaksesnya. Jika kita dalam keaadaan psikologi, perasaan yang tidak stabil, maka mudah sekali untuk dipengaruhi. Kondisi akal bekerja tidak maksimal sehingga out putnya dikhawatirkan juga tidak sebaik ketika kondisi akal sedang fit. Orang yang galau/ goncang emosinya akan lebih mudah dipengaruhi oleh orang lain. Saran-saran dari teman-teman media sosial kita juga belum tentu baik. Karena banyak akun-akun palsu berkeliaran yang tidak memiliki tujuan yang baik. Kalau mau curhat, curhatlah dengan orang yang sudah kita kenal baik dan dekat dengan kita. Misalnya orang tua, kakak, adik yang kecil kemungkinan akan memberikan saran yang menjerumuskan.
Kedua : Hindari kata-kata kotor, mencela, menghina, menghardik. Karena boleh jadi orang yang kita cela menjadi sakit hati. Lebih mengkhawatirkan jika rasa sakit hati itu kemudian di wujudkan dengan perbuatan-perbuatan yang akan membahayakan kita.
Ketiga : Jangan memfitnah. Selain ini adalah dosa besar, jika fitnahan itu sudah kita lempar ke media sosial, maka akan sangat susah dihentikan. Jangan sampai keisengan kita justru menjadi bumerang bagi kita, yang justru akan menghancurkan kita sendiri.
Keempat : Jangan memasang gambar profile yang mengundang kejahatan. Terutama untuk kaum hawa. Bagaimanapun wanita adalah perhiasan dunia. Jangan sampai gambar/ foto profil anak perempuan kita, istri kita memicingkan mata para lelaki iseng di dunia maya.
Kelima : Jadikan media sosial kita untuk ajang silaturrahim, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Jadikan media sosial kita ajang mencari pahala, bukan ajang mencari dosa
Keenam : Bagi para pebisnis tentunya tidak salah jika menggunakan media sosialnya untuk membangun jaringan, ajang promosi produk, saling bertukar ilmu dan lain-lain.
Tentunya masih banyak rambu-rambu yang lain yang bisa kita tambahkan. Pada intinya bahwa jari-jari kita menentukan siapa kita, posisi kita, dan bahkan keselamatan kita. Lebi berhati-hati, lebih bijak, lebih sopan dan santun. Mudah-mudahan, bisa menambah pahala, menambah saudara, dab lebih menyelamatkan kita.

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com