Cari Blog Ini

Selasa, 30 Desember 2014

"jika"

Hidup semakin keras. Harga kebutuhan semakin meningkat. Sedangkan gaji naiknya merangkak, pelan, bahkan tak pasti. Banyak para karyawan, PNS, Mahasiswa kemudian mencari bisnis sampingan unhtuk menambah penghasilan. Seminar bisnis ramai didatangi peserta. Forum bisnis ada dimana-mana hingga forum kecil kelas angkringanpun tak mau ketinggalan. Senua asyik ngobrol bisnis sampingan.

Salah satu bentuk bisnis sampingan yang cukup digandrungi adalah dengan berjualan. Ada yang jualan online, offline, tradisional, modern, dan lain-lain. Bagaimanapun berjualan adalah salah satu alternatife terbaik bisnis sampingan. Dan namanya bisnis sampingan, tentu kita maunya yang tidak banyak menyita waktu, untung geden syukur lebih besar dari gaji.

Jika kita browsing bisnis sampingan di google, maka banyak sekali jenis bisnis alternatif yang ditawarkan. Tetapi hati-hati jangan sampai kita terjebak dalam bisnis “jika”. Bisnis sampingan yang ditawarkan begitu menggiurkan. Dengan modal hanya sekian ratus ribu, kita dijanjikan berpeluang mendapatkan keuntungan jutaan dalam sebulan. Ini adalah salah satu contoh screenshoot yang menawarkan bisnis “jika”.

Sebenarnya tidak masalah bisnis “jika”, “seandainya” asalkan masih dalam taraf realistis. Maka lebih selektiflah lita memilih bisnis sampingan sehingga “jika” dan “seandainya” nya realistis untuk dilakukan.

O..berarti anda tidak optimis. Bukan tidak optimis tetapi realistis. Sehingga apa yang kita lakukan betul-betul dalam jangkauan daya nalar kita. Jangan sampai dalam merealisasikan “jika” dan “seandainya” itu kita justru mengambil waktu-waktu pokok kita. Pekerjaan pokok berantakan dan “jika” tak jadi kenyataan

Minggu, 16 November 2014

Tentang kaya dan miskin

Sebagian orang mengartikan bahwa orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah meskipun dalam kondisi kekurangan. Dan orang miskin adalah orang yang selalu merasa kurang dengan apa yang diberikan Allah meskipun berlimpah harta. Sepintas indah memang, tapi benarkah demikian?

Jika orang miskin diartikan seperti di atas apakah mereka berhak menerima zakat sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur'an. Tentu tidak. Berarti dia tidak miskin, tetapi bisa jadi bermental miskin.
Ada juga motivator yang sering mengatakan " kita ini sebenarnya kaya. Mau bukti? Bolehkah mata anda saya beli 100 juta. Tentu tidak. Berarti kita memiliki aset minimal 200 juta. Bukankah kita orang kaya?" Atau senada dengan ini.

Ada juga yang sering mengatakan "kekayaan bisa membeli kasur, tetapi tidak bisa membeli tidur. Uang bisa membeli obat, tapi tak bisa membeli sehat. Uang bisa membeli/ membayar hiburan tetapi tidak bisa membeli kebahagiaan." Tetapi saya akan bertanya apakah kemiskinan juga bisa membeli itu semua? Tentu juga tidak bisa.

Ada lagi yang memberi dua pilihan yang sangat sering kita dengar. Pilih miskin tapi beriman, sehat dan bahagia atau kaya tapi tidak beriman, sakit-sakitan dan sengsara. Tentu kita akan pilih yang pertama jika pilihannya cuma itu. Allah memberikan pilihan ketiga. Beriman, Kaya, sehat, bahagia. Mungkin tidak? Jelas sangat mungkin.

Sering kali sebagian kita membuat apologi-apologi, permakluman dengan kondisi ketidak mampuan (baca : kemiskinan) kita dengan hal-hal seperti diatas. Padahal jika kekayaan dilingkungan kita tidak kita kuasai, siapa yang akan menguasainya? Orang lain. Kalau orang itu baik, alhamdulillah. Pasti outputnya baik. Tetapi jika mereka bukan orang baik, maka sebagian besar atau hampir semua kekayaan mereka akan mengalir ke tempat-tempat yang tidak baik. Megahnya tempat-tempat maksiat karena ada biaya untuk membangunnya. Dan tidak mungkin orang yang beriman yang mengeluarkan biaya itu. Ramainya tempat-tempat maksiat karena mereka yang datang punya uang. Lagi-lagi mereka pasti bukan orang beriman.

Tentu sangat berbeda jika perputaran uang dikuasai oleh orang-orang yang baik, yang beriman.  Tentunya yang akan berdiri megah bukanlah tempat-tempat maksiat. Tetapi gedung-gedung lembaga pendidikan, lembaga dakwah, dan tempat-tempat yang bermanfaat lainnya.
Umrah butuh uang, ibadah haji butuh uang yang tidak sedikit. Sekolah berkualitas butuh uang yang banyak. O...disana gratis dan berkualitas.  Sebenarnya tetap bayar tetapi yang bayar orang lain dan rata-rata adalah para aghniya. Dan tentunya kita lebih bahagia membiayai orang lain dari pada dibiayai.

Menjadi kaya itu bukan aib sepanjang cara mendapatkannya dengan cara yang halal dan baik. Dakwah ini butuh biaya yang besar. Tidak cukup hanya dengan berdo'a. Tetapi harus ada upaya, ada ikhtiar. Sunduquna Juyubuna itu bukan berwujud do'a tetapi berwujud harta benda.
Menjadi kaya bukanlah kewajiban, yang wajib adalah bekerja cerdas, berdoa, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah. Fa idza azamta fa tawakal 'alallah.
Ini merupakan pendapat pribadi, boleh setuju maupun tidak.








Selasa, 04 November 2014

APA KABAR JARI-JARIKU?

Dulu kita mengenal pepatah "ajining diri ana ing lathi" yang artinya kurang lebih harga diri kita ada pada apa yang kita katakan. Semakin baik apa-apa yang kita katakan, maka semakin baik pula harga diri kita. Dan sebaliknya semakin buruk ucapan kita maka semakin jatuh pula harga diri kita.
Meski tidak 100% benar, tetapi ini bisa menjadi acuan kita dalam berucap. Lebih berhati-hati, berfikir sebelum bicara.
Dan di era digital seperti sekarang ini, pepatah itu sedikit mulai bergeser menjadi  "ajining diri ana ing driji" Artinya bahwa harga diri kita ada di jari-jari kita. Mengapa demikian? Karena media komunikasi kita semakin canggih. Ada SMS, email, facebook, whatsap, bbm, instagram, tweeter, dan banyak yang lain. Dan untuk menjalankannya jari-jari kita akan bekerja mengeja huruf demi huruf.
Media sosial bagaikan pisau. Jika digunakan oleh orang yang baik, maka akan bermanfaat, tapi jika digunakan oleh orang yang buruk, tidak jarang media ini bisa menyebabkan kejahatan yang luar biasa. Tidak jarang kita mendengar tindak kejahatan yang bermula dari kenalan di media sosial.
Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam menggunakan media sosial
Pertama : Media sosial bukanlah tempat untuk curhat. Karena ini adalah wilayah publik. Siapa saja bisa melihat dan mengaksesnya. Jika kita dalam keaadaan psikologi, perasaan yang tidak stabil, maka mudah sekali untuk dipengaruhi. Kondisi akal bekerja tidak maksimal sehingga out putnya dikhawatirkan juga tidak sebaik ketika kondisi akal sedang fit. Orang yang galau/ goncang emosinya akan lebih mudah dipengaruhi oleh orang lain. Saran-saran dari teman-teman media sosial kita juga belum tentu baik. Karena banyak akun-akun palsu berkeliaran yang tidak memiliki tujuan yang baik. Kalau mau curhat, curhatlah dengan orang yang sudah kita kenal baik dan dekat dengan kita. Misalnya orang tua, kakak, adik yang kecil kemungkinan akan memberikan saran yang menjerumuskan.
Kedua : Hindari kata-kata kotor, mencela, menghina, menghardik. Karena boleh jadi orang yang kita cela menjadi sakit hati. Lebih mengkhawatirkan jika rasa sakit hati itu kemudian di wujudkan dengan perbuatan-perbuatan yang akan membahayakan kita.
Ketiga : Jangan memfitnah. Selain ini adalah dosa besar, jika fitnahan itu sudah kita lempar ke media sosial, maka akan sangat susah dihentikan. Jangan sampai keisengan kita justru menjadi bumerang bagi kita, yang justru akan menghancurkan kita sendiri.
Keempat : Jangan memasang gambar profile yang mengundang kejahatan. Terutama untuk kaum hawa. Bagaimanapun wanita adalah perhiasan dunia. Jangan sampai gambar/ foto profil anak perempuan kita, istri kita memicingkan mata para lelaki iseng di dunia maya.
Kelima : Jadikan media sosial kita untuk ajang silaturrahim, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Jadikan media sosial kita ajang mencari pahala, bukan ajang mencari dosa
Keenam : Bagi para pebisnis tentunya tidak salah jika menggunakan media sosialnya untuk membangun jaringan, ajang promosi produk, saling bertukar ilmu dan lain-lain.
Tentunya masih banyak rambu-rambu yang lain yang bisa kita tambahkan. Pada intinya bahwa jari-jari kita menentukan siapa kita, posisi kita, dan bahkan keselamatan kita. Lebi berhati-hati, lebih bijak, lebih sopan dan santun. Mudah-mudahan, bisa menambah pahala, menambah saudara, dab lebih menyelamatkan kita.

Senin, 03 November 2014

KARENA DIALAH (ALLAH) TUHAN KITA

Bukankah Tuhan masih menyayangi kita dengan anugerahNya? Tangan kita masih berfungsi dengan baik, mata masih berfungsi dengan baik, kaki, telinga, hidung dan organ lainnya. Kemudian masih pantaskah kita marah kepada Tuhan dengan mengatakan Tuhan tidak adil, hanya karena hidup kita tidak bergelimang harta.

Tuhan tidak pernah menyematkan sesuatu pada hambaNya kecuali untuk kebaikan. Memang terkadang sangat sulit bagi kita menerima keadaan di mana kita sudah berusaha semaksimal mungkin, berdo'a sesering mungkin, mengagungkanNya dalam setiap helaan nafas, namun hasil yang diberikannya tak sesuai dengan harapan kita.

Apapun keadaan kita saat ini, adalah keadaan terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita.
Mari melihat surat cintaNya ,

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Siapa yang paling tahu diri kita? Tuhan. Dia yang menciptakan, dia yang paling tahu tentang ciptaanNya. Segala sesuatu telah diaturNya sesuai dengan ukurannya. Tidak ada yang salah dalam setiap ketentuanNya. Yang salah adalah kita yang salah memperlakukannya.

Jika saat ini kondisi kita sedang banyak hutang, itu adalah bisikan Tuhan "bekerja keraslah kamu, supaya berpenghasilan dan segera bayar hutangmu"
Jika saat ini kita sedang sakit, maka hakikatnya Tuhan berbisik "istirahatlah sejenak, hati-hati dengan makananmu"
Jika hari ini kita sedang kehilangan uang, maka sebenarnya Tuhan berbisik "hati-hati naruh uang"
Jika hari ini kita bersedih, sesungguhnya Tuhan berbisik "sabarlah, Aku akan segera menggembirakanmu"
Jika kita hari ini sedang gembira, maka yakinlah bahwa Tuhan berbisik "Bersyukurlah, dan akan aku tambah nikmatKu kepadamu"

Keadaan boleh saja tidak menguntungkan menurut kita, harta boleh saja habis, tapi keyakinan kita akan harapan kita kepadaNya tidak boleh pupus, harapan tak boleh hilang. Selagi Izra'il belum diutus kepada kita, Yakinlah bahwa Tuhan pasti mengutus Mikail kepada kita.
Tetap berbaik sangka bpadaNya. Karena Dialah (Allah) Tuhan kita.

Gambar : https://dakwahsahabat.wordpress.com

Sabtu, 25 Oktober 2014

NGE-MALL

Ternyata...selama ini saya hidup ibarat dalam tempurung. Sempit. Ketika suatu hari saya di ajak ke mall,(sebelumnya sih juga pernah nge-mall, tapi ini beda) biyyuh..... tiba'e isine nyenengkeh. Isine wong sugih thok. Ibarat kata, kagak ade yang jelek. Semua cantik-cantik, ganteng-ganteng tapi bukan srigala lho. Yang jelek kelihatannya saya saja.

Ck..ck...ck.., luar biasa pesona mall. Banyak yang datang tetapi hanya ingin nongkrong saja. Mojok, dengan gadget di tangan. Jari-jari sibuk ngetik. Entah status, entah sms, pokoknya drijine nyambut gawe.

Kalau sudah di mall kayaknya yang jelek merasa berubah ganteng, yang miskin berasa kaya. Walaupun tidak semuanya tentunya. Tapi sebagian besar begitu. Dandannya cakep-cakep, pakai sandal atau sepatu mahal (kelihatannya), bajunya seksi-seksi. Lha saya, sandal jepit, kaos oblong, bolong suwek sisan.
Memang nggumunke. Padahal harga-harga yang dijual di sana ya termasuk mahal bagiku. Apa karena aku yang miskin ya. Tapi tetap saja laris manis.

Yang lebih nggumunke, nyandhange kui lho, ada yang pakai celana sekilan, sporotan, kaos kekecilan. Ada juga sih yang pakai baju rapi dan pantas dilihat. Seolah saling berlomba dengan kegemerlapannya. Dalam senyum yang dibuat semanis mungkin, seolah mereka berkata "ini bodiku, mana bodimu?"

Mudah-mudahan aku nggak tuman.

Gambar : http://id.wikipedia.org

Senin, 20 Oktober 2014

PESTA PESTA

''Wah..tipine gayeng yo gong?" Gareng nyruput susu jahe ing warung langganane.
"Gayeng kepiye kang?"
"Apa kowe ra nonton wingi. Ana pernikahan mewah sing ngentekake ragat milyaran, kamangka awake dhewe wae arep golek duit kanggo mbayar SPP wae paribasan niba tangi ra entuk-entuk. Stasiun sejene nyiarake pesta rakyat sing ragate yo ora sethithik. Panganan akeh tur ora mbayar. Mendah kaya ngapa senenge yen pesta kui mau di enekake neng sinabung. Para korban gunung mbledhos sing padha kelien kae." Gareng rumangsa prihatin.
"Mbok ya wis kang, rasah nggresula, lha wong dhuwit-dhuwite dhewe, ragat-ragate dhewe, lha kok kowe iyik."
"Ya pancen dhuwite dhewe, ning mbok ya mikir wong mlarat kaya awake dhewe iki yen nonton pra ya ngiler."
"Gampang wae kang, ora sah nonton lak beres."
"Jane ya ngono, ning yen tak pikir-pikir pancen yo lucu kok, jare negarane awake dhewe ki negara sing mlarat kakean utang, ewadene kok yo isih ono sing kuat ngragati mangan-mangan sing kaya ngono kui. Aja-aja urun ragat kui dudu wong Indonesia Gong?"
"Aku ora ngerti kang, sing ngragati piyayi ngendi, sing tak weruhi negarane awake dhewe kui kejajah kang." Bagong nerangake penemune.
"Kejajah piye le?" Gareng ora mudheng karepe Bagong.
"Kejajah morale, kejajah budayane, kejajah ekonomine. Tuladhane ya sing kaya tipi kui. Pancen ora salah wong pancen kuat ragat, nanging aja nganti seneng-seneng kuwi mau ndadeake iri warga liyane, basa pintere kecemburuan sosial.  Aja nganti ana penemu mulyaning manungsa kuwi gumantung bandha. Semono uga stasiun tipi mbok ya gawe hiburan kui ora mung nyenengke nanging uga menehi tuladha sing becik. Muga-muga para kang kawogan ngrasaake apa sing dadi grundele dhewe iki yo kang?"
"Yo gong, muga-muga wae. Awake dhewe kui drajate wong cilik, lungguhe dhingklik, mangane sethithik, mung iso ngudarasa kareben kabeh dadi becik. Muga-muga kabeh di paringi ganpang gangsar anggone golek sandang pangan."

Gambar : http://www.life.viva.co.id

Selasa, 14 Oktober 2014

Dolly oh Dolly.....



“Gong, wis krungu menawa Dolly arep ditutup.” Petruk, Gareng lan Bagong lungguh jigang kaya padatan.
“Lha yo wis. Lha ana apa ta kang lha kok kadingaren ngrembug bab Dolly. Apa nduwe anak buah neng kana?” Bagong mangsuli kanthi gojegan.
“Ora ngono Gong. Iki aku ngrembug bab Dolly amarga isih ana sing ora nyarujuki babagan Dolly sing arep ditutup iku mau. Kamangka kuwi papan kanggo ngumbar asmara kang ora bener tumraping agama apa dene negara. “ Petruk mbacutake.
“Lha iya ta kang. Kok ya isih ana sing ora nyarujuki. Yen tak gagas kok lucu. Barang sing ala arep di rampungi kok ora entuk. Ora tinemu nalar babar blas.”
Gareng kang krungu gunemane Bagong banjur nyelani. “Mengko dhisik Gong, yen aku nduwe penemu liya entuk ta?”
“Ora apa-apa kang. Penemumu piye?” Petruk
“Ngene Truk, Gong.” Gayane Gareng karo nglepus rokok tingwene. “Pancen bener Dolly kuwi papan ngumbar asmara utawa zina. Nanging papan kuwi nguripi atusan, sok malah ewon wong kang nyambut gawe ing Dolly. Yen nganti ditutup lha trus padha arep mangan opo?”
“Lha doyane apa kang, yen doyane sega, ya mangane sega, yen doyane suket ya mangan suket. Ngono wae kok repot. Bab gampang kui.” Bagong nyela karo cengengesan.
“Tegese kui, mangan sega lak ya kudu tuku sing arep di dang. Lha yen ora nyambut gawe ya ora nduwe dhuit, banjur arep tuku nganggo apa? Sing nyambung urip neng kana kuwi ora mung PSK wae. Ana bakul, ana ojek, ana kuli lan liya-liyane. Lha yen di tutup trus arep makarya neng ngendi coba pikiren!”
“Yen bab kuwi mesthine pemerintah wis menggalih. Aku krungu Kemensos jare ya cucul dhuwit, Pemerintah Surabaya ya cucul dhuwit. Sejene ngono yo wis ana gladhen saka dinas sosial kanggone para PSK kui kareben bisa makarya sing becik. Lha kanggone wong-wong sing nyambut gawe utawa makarya dadi tukang becak ya isa mbecak neng papan liya, bakulan neng papan liya. Yen gelem gumregah mesthi wae Gusti paring dalan. Yen mung alesan butuh mangan wae copet ya butuh mangan, ning kudu di berantas Kang.”
“Lha kok malah madhakne wong bakulan karo copet.” Gareng tambah bingung
“Karepku sing PSK kuwi mau kok. Padha-padha tumindakm nistha.”
“Yo beda. Yen nyopet kui nggawe kapitunaning liyan. Yen PSK lak ora ngrugekne.” Gareng tetep ngeyel karo mentheleng.
“Lha yen kowe jajan apa bojomu ora nesu kang?” Bagong nyumela.
“Ya mesthine mbakyumu nesu.”
“Lha apa ra tegese rugi kui, kira-kira mbakyu yen kon milih kowe kecopetan satusewu karo jajan seketewu pilih endi kang?”
“Yo mesthine pilih kecopetan satusewu.”
“Lha kui tegese mbakyu rumangsa luwih tuna yen kowe njajan seketewu tinimbang kelangan satusewu.” Bagong nuturi Gareng
“Lha apa isih ana Gong sing regane seketewunan?” Ganti Gareng sing cengengesan.
“Miturut pawarta ana kang. Sangsaya murah sangsaya mbebayani.”
“Lha kok iso?” Gareng .
“Lha mesthine saya murah saya laris. Tegese saya akeh sing tuku, saya akeh sing zina.” Petruk namabahi katrangane Bagong. “Sing baku dene pemerintah arep nutup Dolly kuwi karepe ya becik. Kanggo kabecikane rakyat kabeh, kuwi wis cetha bab sing ala. Kudu ana sing miwiti ngrampungi. Yen dinengke wae malah saya ngrembaka, saya kuwat, saya tambah angel ngrampungi. Muga –muga kanthi niat sing becik kuwi para warga tambah mangerteni bebaya sing wis sumadya ing mburine tindak ala kuwi mau. Pancen tata gelar nguripi wong sewu, nanging nguripi wong kang cacah sewu kuwi kanthi mateni wong maewu-ewu. Lelara kang sumebar saka tumindak nistha mau bakale nular, yen wis nular angel ngrampungi. Ngentekake prabea sing larang, ewadene s ok- sokora mari malah mati. Mula saka kuwi kang ayo disengkuyung niat becik iki, lan ora lali ya paweh karampungan tumrap wong-wong kang nggantungake urip saka papan kuwi.”
“Bener kang. Muga-muga para sedulurku sing uripe gumantung ing papan kuwi diparingi dalan sing gampang ngupadi rejeki ing papan liya. Semono uga para warga liyane aja trus mlengos, ngguwak rai,  nyemir utawa ngasorake, rumangsa gila karo para sedulur mantan PSK kuwi. Kudu disengkuyung kareben ora bali maneh dadi PSK. Tak kira yen para warga, pemerintah sengkut gumregut bareng-bareng, ora mokal, Indonesia minim pelacuran. Sokor-sokor iso bebas. Tak kira iki ya impene kabeh  para warga.”
“Bener Truk, Gong. Muga-muga wae niat nutup Dolly iki ora malah nambah masalah. Kabeh diparingi lancar.”
Gareng, Petruk lan Bagong manggut-manggut sinambi nyruput kopi pahit.

Katulis nalika dolly arep ditutup
Gambar : inilah.com

KATHOK NYAPRET AGAWE MUMET



“Wah..kok sajak nglangut ana apa ta lik Dhadhap.” Klendor takon karo pak lik e sing lagi lungguh nglangut ana ing warung kopi.
“Lagi mikir ponakanmu kae lho, kandhan-kandhanane angel saiki.” Lik Dhahap ndhingkluk sinambi kukur-kukur
“Lha bab apa ta lik?”
“Kui lho, saiki si Kanthil senengane nganggo kathok nyapret, gek pupune diumbar rana-rana.”
“lha yen neng omah wae lak ya ora apa apa ta lik.”
“Neng omah piye Ndor, wong lunga dolan ya nganggo kathok nyapret, kaos singset, pating prethethet. Apa ora marai isin.” Lik Dhadhap karo gedhak-gedhek.
“O..., di umbar to lik? Lha jaman saiki ya kui sing lagi tren lik. Aja kaget.”
“Kamangka jaman ndhisik kuwi wong wadon nganggo kathok dawa wae dianggep ra pantes, ora ilok. Trus gandheng ana sing tetep nganggo, yo akhire dadi lumrah. Jaman saya maju, kathok dawa kanggo wong wadon dadi lumrah, nganggo gojak-gajek dadi bab sing marai isin kanggo wong wadon. Jaman sangsaya maju maneh, gojak-gajek dadi bab sing lumrah, nganggo kathok nyapret marai ngisin-isini. Lha saiki kathok nyapret sangsaya lumrah, sing ngisin-isini yen nganggo kathok cawet thok. Apa mbesuk bakal kelakon ya Ndor kathokan cawet dadi bab sing lumrah kanggone wong wadon lunga wira-wiri?” Lik Dhadhap karo ngulati langit
“Aku kok yo kuwatir yo lik, aja-aja jamane anakku mbesuk, cawetan thok dadi bab sing lumrah. Budaya ketimuran dadi ilang, sithik mbaka sithik ora krasa.” Klendor melu nggagas.
“Lha iya ta Ndor, mbok aku diewangi ngandhani adhimu kae, ben ora kebablasen anggone nyandhang menganggo. Cangkemku wis juweh ngandhani.”
“Yo lik, tak cobane. Menawa isih kena dikandhani si Kanthil kuwi. Ben ora kegawa gaya urip sing ora bener. Mosok pupu di gratisne, kamangka pupu pitik wae ana ajine. Paling ora ya patang ewu. Yen urip mung seneng anut grubyuk, tanpa nganggo petung, tanpa nganggo mikir suwe ning suwe bocah wadon dadi barang kanggo dolanan. Di anggep murah merga diobral awake. Muga-muga wae kabeh ndang padha sadar kabeh.”
“Iya, muga-muga ya Ndor. Ngene wae mesthi isih ana sing ora sarujuk karo penemune awake dhewe.”
“Ya ora apa-apa, wong kuwi nduwe penemu dhewe-dhewe. Sing penting ora nerak wewalere para sepuh, ora nerak wewalere Gusti.”

Gambar : http://www.kawankumagz.com

















NGGRUNDEL


Pernah dengar lagu ayo ngguyu? Kurang lebih begini lagunya, “ayo ngguyu..ayo ngguyu yen ngguyu ja padha seru-seru..”

Tapi saya tidak akan mengajak ngguyu saat ini. Tetapi ayo nggrundel. Atau dengan kata lain sambat.
Beberapa hari yang lalu kita disuguhi berita yang sangat mencengangkan. Seorang anak Sekolah Dasar di Bukit Tinggi Sumatra Barat. Kira kira dari mana mereka “ngudi kawruh” persmekdonan itu. Dari orang tuanyakah, gurunyakah, teman-temannyakah, atau dari gemerla pnya dunia teknologi. Ada tayangan televisi, Game Online, Gadget.

Mari menengok sebentar apa yang disuguhkan s ikotak ajaib di rumah kita. Semuanya pasti mendidik. Hanya mendidik ke arah mana? Yang baik apa yang tidak baik. Berapa prosentasenya. Saya yakin seyakin-yakinnya banyak yang ke arah tidak baik. Sinemanya, filmnya, komedinya, infotainmentnya, dan masih banyak lagi. Kalau kita mau jujur pasti mengakui banyak acara-acara yang jauh dari kata mendidik kebaikan bagi kita dan anak-anak kita.

Tayangan-tayangan yang setiap hari mampir di rumah melalui kotak itu akan berangsur-angsur menguasai pola pikir kita sehingga menjadi tren dan sesuatu yang sangat wajar. Lihat sekarang bagaimana anak-anak perempuan, bahkan ibu-ibu muda dan setengah tua rela menggunakan celana sekilan. Dipamerkanlah pahanya yang belum tentu putih. Padahal ketika dipelototin mata laki-laki mereka juga marah dan merasa dilecehkan.

Lihat anak-anak kita sekarang jarang sekali melantunkan lagu-lagu khas anak-anak dengan riang gembira. Yang mereka lantunkan adalah lagu-lagu romantis sepasang kekasih. Lha kalau ini dibiarkan entah bagaimana kondisi bangsa ini 20 tahun yang akan datang? Medeni, nggegirisi.

Tapi apa dengan nggrundel ini kemudian semua masalah selesai? Tentu tidak. Mari memberikan kontribusi kepada bangsa ini sekecil apapun untuk kemajuan dan kemakmurannya. Tentunya tanpa meninggalkan kebaikannya.

Gambar : http://wesolved.org

Bismillah


Yen urip kui linambaran bismillah, bakal ayem tentrem urip bebrayan ing masyarakat. Iki dudu tepsir bismillah. Iki mung othak athik gathuk. Menawa ora mathuk aja banjur nuthuk.

Sepisan bismillah yaiku bisa milah.

Tegese wong kan urip bebarengan ing bebrayan agung kui kudu bisa milah ing antarane becik lan ala. Amarga ing alam bebrayan ora saben menungsa kui tumindak apik utawa bener. Mesthi ana kang seneng nerak wewaler. Manungsa di paringi nalar karo Gusti Allah kudu bisa kanggo milah endi sing bener lan endi sing luput.

Kang angka loro yaiku Bisa Milih

Akeh manungsa kang bisa mbedaake, kang bisa milah nanging ora wenang milih. Tuladhane wong kang drajate babu, utawa batur. Bisa mbedaake luput lan bener nanging kudu nindakake apa karepe bendarane. Mula saka kui dadi menungsa kudu bisa merdika babakan milih. Tegese yen wis bisa milah sing bener ya enggala dipilih lan ditindakake ing sabendinane.

Kang angka telu yaiku Bisa Molah-Malih

Tegese empan papan. Mangerteni kapan wayah geguyonan kapan wayah nyambut gawe. Bisa mapanake diri jumbuh karo wayah lan panggonan. Ora ateges tumindak munafik ananging bisa njaga pribadi saka tumindak kang bisa ndadeake crah, ndadeake bubrah alam bebrayan. Kudu bisa ngemong wong kang lagi padudan kang tundhane bisa ndadeake tentrem akure wong kuwi mau.

Kang Pungkasan yaiku Bisa Mulih

Tegese milah, milih, molah-malih mau kudu diulihake marang Gusti Allah. Ora kena kita milah, milih, molah-malih  ananging nerak wewalering Gusti Allah. Kabeh tindak-tanduk solah bawa kudu diulihake marang ngendikane Gusti Allah kang awujud pustaka suci. Yen kabeh mau bisa diugemi bakal waluya urip kita, ayem tentrem kang tundhane dipungkasi kanthi khusnul khatimah.

Gambar : http://m.photo.abatasa.com
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com