Pernah dengar lagu ayo ngguyu? Kurang lebih
begini lagunya, “ayo ngguyu..ayo ngguyu yen ngguyu ja padha seru-seru..”
Tapi saya tidak akan mengajak ngguyu saat ini.
Tetapi ayo nggrundel. Atau dengan kata lain sambat.
Beberapa hari yang lalu kita disuguhi berita
yang sangat mencengangkan. Seorang anak Sekolah Dasar di Bukit Tinggi Sumatra
Barat. Kira kira dari mana mereka “ngudi kawruh” persmekdonan itu. Dari
orang tuanyakah, gurunyakah, teman-temannyakah, atau dari gemerla pnya dunia
teknologi. Ada tayangan televisi, Game Online, Gadget.
Tayangan-tayangan yang setiap hari mampir di
rumah melalui kotak itu akan berangsur-angsur menguasai pola pikir kita
sehingga menjadi tren dan sesuatu yang sangat wajar. Lihat sekarang bagaimana
anak-anak perempuan, bahkan ibu-ibu muda dan setengah tua rela menggunakan
celana sekilan. Dipamerkanlah pahanya yang belum tentu putih. Padahal
ketika dipelototin mata laki-laki mereka juga marah dan merasa dilecehkan.
Lihat anak-anak kita sekarang jarang sekali
melantunkan lagu-lagu khas anak-anak dengan riang gembira. Yang mereka
lantunkan adalah lagu-lagu romantis sepasang kekasih. Lha kalau ini dibiarkan
entah bagaimana kondisi bangsa ini 20 tahun yang akan datang? Medeni,
nggegirisi.
Tapi apa dengan nggrundel ini kemudian
semua masalah selesai? Tentu tidak. Mari memberikan kontribusi kepada bangsa
ini sekecil apapun untuk kemajuan dan kemakmurannya. Tentunya tanpa
meninggalkan kebaikannya.
Gambar : http://wesolved.org
Gambar : http://wesolved.org







0 komentar:
Posting Komentar